dilarang menyalin sebagian atau keseluruhan dari Blog ini Tanpa seijin penulis

Trailer Misteri Bahu Sang Penari

pijar88 on November 7th, 2014 | File Under Jurnal | No Comments -

Gadis Dua Jiwa (4)

Kisah Sebelumnya GadisDuaJiwa (3)

Pagi yang berkabut. Kubersihkan tubuhku dalam balutan dingin yang menusuk. Aku keluar dari rumah kontrakan dengan perasaan tak menentu karena kegagalan usahaku. Naik angkot, aku ke pegadaian mengambil sepeda motorku. Sudah sebulan aku tak menjalani tugas sambilanku. Dengan sepeda motor ini aku biasa antar jemput beberapa orang dengan imbalan tiap bulannya.
Sepeda motor itu lama teronggok di pegadaian hanya demi satu keluarga yang telah kupinjami uang. Delapan juta rupiah telah melayang sia-sia. Dana pinjaman yang kujadikan modal untuk buka warung, habis begitu saja dalam beberapa bulan. Uang itu telah raib entah bagaimana, sedangkan barang-barang di warung tinggal beberapa macam saja. Tak apalah, toh ini pengalaman pertamaku berbisnis. Aku sendiri yang salah, mempercayakan pengelolaan warung kepada orang yang belum tentu dapat dipercaya. Akh sudahlah, semua sudah terjadi. Aku ikhlas. yang penting sepeda motorku telah kembali dengan utuh.

Kulajukan sepeda motorku pelan menyusuri jalanan kota Pajajaran Bogor. Sesampainya di rumah, kulihat Wati sedang berbincang dengan seorang perempuan paruh baya. Di sebelah orang itu, tampak anak kecil gemuk yang sibuk mengunyah makanan.

Wati menatapku sekilas ketika kustandarkan sepeda motor di teras kontrakan.

“Oh, sudah diambil motormu Ran?”
Aku mengangguk. Wati telah berdiri di depan pintu.
“Siapa mereka Wat?” tanyaku.
“Mereka mencarimu Ran, ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan,”
Kulihat mereka duduk menunggu. Dua tamu itu tampak menganggukkan kepala ke arahku sembari tersenyum.
“Mencariku? Ada apa?”
“Nanti kamu juga tahu, buruan masuk.”

Dua orang itu ibu dan anak laki-lakinya. Sang ibu memohon kepadaku untuk menolong anak perempuannya, gadis belasan tahun yang masih duduk di bangku SMA. Gadis itu sedang dalam masalah.

Kami pun terlibat dalam obrolan panjang. Si Ibu, bernama Marta. Sikapnya sangat hormat dan sopan kepadaku. Tampak kecemasan yang sangat dari sorot matanya.

“Sekarang Nila sudah mulai sehat dan segar kembali, untung saja aborsi yang dilakukannya tak berakibat fatal nak,”
Aku diam memperhatikan Bu Marta berbicara.
“Tolong nasihati dia nak, dia masih tetap berhubungan dengan laki-laki yang telah menghamilinya itu.”
“Bukannya ibu bisa menasihati sendiri? Nggak mungkinlah saya bisa menasihati anak ibu kalau ibu sendiri tidak bisa,” ucapku pelan.
“Justru Bu Marta ini hampir putus asa menasihati anak gadisnya Ran, cobalah nanti kamu ke sana…” Wati menimpali.
“Iya nak, kami curiga dan takut kalau anak saya terkena guna-guna.” tukas Bu Marta.
“Kok ibu bisa bilang begitu?”
“Usia laki-laki itu sudah tua, lebih cocok jadi ayahnya. Bagaimana mungkin Wati bisa pacaran sama orang tua bandot kayak begitu kalau bukan karena guna-guna?”

Aku memahami apa yang dikhawatirkan oleh Bu Marta. Akhirnya kujanjikan untuk ke rumahnya dalam minggu ini. Untuk datang nanti malam atau besok pagi rasanya tidak mungkin, masih banyak hal-hal yang perlu kuselesaikan.

Ibu dan anak itupun pulang. Wajah Bu Marta tampak lebih ceria dibanding saat pertama kulihat tadi. Sepeninggal Bu Marta dan anaknya, aku beranjak ke dapur untuk tidur karena kantuk yang tak dapat lagi kutahan.

Baru sekejap merebahkan diri, pintu kamarku diketuk-ketuk.
“Ran, Rani..” Suara Wati dari balik pintu kamarku.
“Ada apalagi?” jawabku agak dongkol.
“Ini, ada yang datang mengantar bingkisan, dari Pak Markus…”
“Ya udah kamu terima saja. Bilang aku tidur karena ngantuk berat!”
Tak kuhiraukan lagi Wati ngomong apa karena perlahan kesadaranku menipis dan langit-langit di kamarku perlahan samar dan semakin samar.
Aku tak ingat apa-apa lagi.

Zzzzzsss
***

Aku terbangun ketika jam beker di kamarku berdering kencang. Sudah pukul 4 sore. Aku harus ke rumah orang tua Mas Ratno di kompleks Bogor Indah. Kulihat Wati sedang menyuapi anaknya di ruang tamu.

“Aku pergi sebentar Wat, ke Pajajaran…”
Wati tampak kaget. Wajahnya begitu gelisah, “Aku ikut!”
“Nggak usah, lagi pula ini urusan nggak wajar.”
Wati tetap ngotot untuk ikut hingga aku tak kuasa menolak. Kami pun pergi bertiga.

Tak sampai setengah jam kami sudah sampai di kompleks Bogor Indah. Kukeluarkan kertas alamat dari kantong celanaku. Jalan Nanggor III No. 10. Dari tadi kami tak menemukan nama jalan itu. Setelah bertanya ke salah satu Satpam yang kebetulan sedang berjaga, sampailah kami di alamat tersebut.

Rumah itu tampak sepi. Kami mengetuk pintu pagar yang tertutup rapat.
Dua orang paruh baya keluar dari dalam rumah besar itu.

“Apakah benar ini rumah orang tua mas Ratno?” tanyaku.
Laki-laki setengah baya itu menatapku kemudian tampak menghela napas. Wajahnya begitu gelisah. Sementara si Ibu memperhatikan kami dengan seksama.
“Benar, saya Iwan orang tua Ratno. Dan ini istri saya, ada perlu apa dik?”
“Saya Rani Pak, penyiar Radio Gerhana Putra ”
Sepasang suami istri itu saling pandang kemudian mempersilahkan kami masuk.

Aku menceritakan bahwa beberapa hari ini kami sering didatangi arwah Mas Ratno, anak mereka yang meninggal bunuh diri. Pak Iwan, orang tua mendiang Mas Ratno itu, tampak mendengarkan kata-kataku dengan seksama. Beberapa kali kepalanya tampak menggeleng.

“Orang yang sudah meninggal ya meninggal saja dik, mana mungkin arwahnya datang menemuimu,” kata Pak Iwan.
“Jangan mengada-ada, anak kami sudah tenang di alam baka…” Istri Pak Iwan tampak terisak.
“Hampir setiap malam kami didatangi Pocong Pak, Bu, Pocong itu minta disempurnakan kematiannya.” kataku berusaha meyakinkan mereka.
“Saya juga melihat sendiri tadi malam, pocong itu berdiri di pinggir jendela kamarku..” Sergah Wati, suaranya gemetar menahan perasaannya.
“Sudahlah, sudah dik. Kamu jangan ngelantur. Apapun yang kamu lihat, itu bukan anakku. Bisa saja itu setan yang sengaja menyamar untuk menakut-nakuti kalian” Laki-laki setengah baya itu tampak emosi.

Lagi, kusampaikan bahwa pocong yang kulihat tersebut minta dilepaskan plastik yang membungkus jasadnya.

Jawaban Pak Iwan sama sekali tak bersahabat;
“Plastik-plastik apa, biarpun misalnya benar ada plastiknya, sesuatu benda itu tak berpengaruh pada orang yang sudah mati.”

Karena situasinya tak bersahabat, kamipun buru-buru pamitan.

***

Menjelang magrib kami sampai kembali di rumah kontrakan. Jalanan tampak ramai oleh para pekerja yang pulang dari kantor. Seekor kucing hitam meloncat menghindari sepeda motorku ketika melewati gang kecil, belasan meter sebelum sampai rumah kontrakan.

Rumah kontrakan kami tampak gelap karena lampu belum dinyalakan.
Tercium bau amis ketika kami memasuki rumah.

Setelah membaringkan anaknya, Wati menghempaskan tubuhnya di kursi.
“Sombong sekali orang itu tadi” kata Wati, bersungut-sungut.
“Sudahlah, yang penting aku sudah tenang, sudah kusampaikan apa yang harus aku sampaikan.”

Wati berdiri dan membuka lemari. Dikeluarkannya sekotak besar kue-kue. Ada roti dan jajanan-jajanan dalam kemasan. Ditaruhnya barang-barang itu di atas meja.

Aku melihat tingkahnya, geli. Wati tampak seperti anak kecil yang memamerkan mainan barunya.

Wati melangkah ke dapur dan kembali lagi dengan sepiring martabak.
“Banyak sekali Pak Markus membawakan makanan-makanan ini Ran,” ucap Ranti
“Ya udah, ayo kita makan,” Kuambil sepotong Martabak, dan mencicipi makanan manis itu. Tapi baru dua suap kumakan martabak itu, perutku sudah terasa penuh dan kenyang. Sangat kenyang seolah aku baru saja makan begitu banyak.
“Kenapa tidak kamu lanjutkan makannya Ran?” tanya Wati keheranan.
“Akh, tidak. Aku sudah kenyang.”
“Kenyang bagaimana, sejak tadi siang kamu kan belum makan apa-apa?”

Aku diam tak mau membahas hal itu. Jujur saja, perutku memang benar-benar merasa kenyang. Aku beranjak ke dalam kamar.

Dari dalam tas besar di atas meja, kuambil sekantung bunga sedap malam. Satu persatu kelopak bunga itu masuk ke dalam mulutku. Kukunyah dalam rasa nikmat yang teramat sangat. Entah kenapa, telah hampir dua minggu ini aku selalu ingin menikmati bunga sedap malam, melebihi apapun makanan enak yang pernah ada.

Kami sholat magrib dan Wati mengaji sementara sikecil tampak asyik dengan mainannya.

***

Aku berangkat ke Studio untuk siaran. Kurang 5 menit dari pergantian jam, sepeda motorku sudah sampai di pelataran studio. Kantor sudah tampak sepi. Seperti biasa, Mbak Andri tak berkata sepatahpun ketika bertemu denganku. Aku tak mempedulikannya. Toh pemilik radio ini yang menginginkanku untuk bertahan, meskipun aku pernah menyatakan untuk mundur setelah hubunganku dengan mbak Andri tak harmonis lagi.

“Selamat malam, bertemu kembali dengan Rani di 96 FM, Radio Gerhana Putra, …”

Suaraku riang mengawali siaran malamku. Kuputar lagu Adele sebagai pembuka. Nada sendu yang mengalun indah itu membawaku ke dalam suasana yang syahdu dan manis. Mas Irfan terus memperhatikanku sembari mengatur tombol-tombol sound.

Jam 9 malam aku keluar dari ruang siar karena Mas Irfan memberitahuku bahwa ada seseorang yang datang dan sudah menungguku lama. Sementara beberapa lagu mengalun tanpa penyiar, aku sempatkan menemuinya.

Ternyata Bu Marta. Perempuan itu datang bersama Bu Anwar, orang yang pernah memintaku mengobati keponakannya yang sakit.
“Tolong saya Dik Rani, anakku makin brutal saja. Kalau bisa malam ini…”
“Aduh, gimana ya Bu, sepertinya aku tidak bisa.” jawabku serba salah.
“Iya Dik, ini sudah gawat.” Bu Anwar angkat bicara.
“Dik Rani, Shinta mengancam akan bunuh diri jika tidak diperbolehkan ketemu dengan pacarnya yang tua itu.”

Kudengarkan kata-kata Bu Marta dan Bu Anwar yang saling sahut. Akhirnya kuiyakan juga. Aku berjanji untuk ke rumah Bu Marta besok pagi.
“Apa tak sebaiknya malam ini saja Dik, soalnya kami takut Shinta akan nekad,” kata Bu Anwar.
Akhirnya kuiyakan saja. Aku berjanji untuk ikut mereka seusai siaran.
Tepat jam 12 Malam jam siarku selesai. Kutinggalkan sepeda motorku dan ikut bersama Bu Marta dengan mobilnya.

***

Di rumah Bu Marta, Shinta tampak sangat tertekan. Gadis cantik kelas 2 SMA itu mengurung diri dalam kamarnya. Bu Marta mengantarku ke kamar Shinta. Berkali-kali kamar itu diketuk tak ada jawaban. Kamar itu dikunci dari dalam.

Bu Marta membuka kamar Shinta dengan kunci duplikat. Dengan berjingkat, akupun membuka kamar itu. Sangat redup. Hanya lampu duduk warna hijau yang menyala, membuat suasana di dalam kamar itu terasa mengerikan. Kulihat seseorang sedang duduk di bangku belajar.

“Assalamualaikum,” ucapku memberi salam.

Tak ada sahutan, kuulangi salamku, “Assalamualaikum,”
“Udah masuk aja… ” Suara gadis itu, parau.
Aku pun melangkahkan kaki memasuki ruang kamar itu. Kamar itu terlalu besar untuk ukuran kamar anak sekolah. Kulihat Shinta tak acuh melihat kedatanganku. Gadis itu terpekur menatap sesuatu di atas meja, seolah sedang membaca sebuah buku.

Aku bergidik ngeri ketika kulihat di belakang punggung Shinta tampak samar sebuah bayangan. Bayangan itu begitu tipis, berdiri mengawasi setiap gerak-gerik gadis itu. Kualihkan tatapan mataku dan memusatkan perhatianku. Kubayangkan sedang menatap kening Shinta yang membelakangiku. Gadis itu kini mendongakkan kepalanya.

“Kenalkan, namaku Rani. Aku ke sini atas kemauan ibumu.”
Kuperkenalkan diriku, tapi tak kuingat lagi sampai sejauh mana kata-kata yang keluar dari mulutku ketika kemudian kurasakan bayangan setiap benda di hadapanku seolah samar dan semakin samar. Kemudian seperti waktu-waktu yang lalu, aku terlempar ke dalam dunia entah berantah yang terasa asing. Kali ini aku terdampar di sebuah daerah menghijau dengan bukit-bukit yang indah. Jika kau pernah melihat tayangan Teletubbis di telvisi, seperti itulah kira-kira. Aku membaringkan tubuhku di atas rerumputan halus yang sangat luas itu, kupejamkan kedua mataku dan aku tertidur. Tidur yang lena.

Kubuka kedua mataku, masih berada di bukit hijau yang indah. Tapi beberapa saat kesadaranku pulih, tiba-tiba saja hembusan angin keras menabrak kedua kakiku dan membuatku terlempar jauh hingga tak kusadari lagi keberadaanku.

Aku telah kembali berada di dalam kamar mewah Shinta.
“Saya menyesal telah salah arah kak, saya merasa malu sekarang.” Suara Shinta, lirih.
Shinta terus mengucapkan kata-kata penyesalan dengan lancar dan tanpa malu, seolah telah lama berbicara denganku.

Aku tersenyum ke arah gadis itu, kurasakan aura Shinta telah berubah. Kuedarkan pandangan mataku ke sekeliling ruangan, tak kutemukan lagi sosok samar yang tadi kulihat saat pertama memasuki kamar ini.

“Kamu mau berjanji?” Tanyaku.
“Janji apa?” jawab Shinta, lembut.
“Kamu mau berjanji untuk tak lagi menjalin hubungan dengan pacarmu yang telah menjerumuskanmu itu? Dan apakah kamu mau berjanji untuk tak lagi keluyuran malam ke diskotik, apalagi meminum-minuman keras?”

Gadis itu mengangguk. Bahkan Shinta meminta Pin BBMku. Shinta beralasan agar aku dapat mengecek keadaannya kapanpun aku mau.

Karena merasa telah sesuai dengan harapan, Aku pun memohon diri. Bu Marta terlihat begitu senang dan bahagia mendapati anak gadisnya telah berubah dalam waktu yang begitu cepat. Shinta sudah berjanji untuk kembali sekolah dan tak akan berpacaran lagi dengan bekas pacarnya, laki-laki dewasa yang sudah memiliki istri dan bahkan anak yang seusia dengan dirinya.
“Jadi benar dugaanku nak Rani?” tanya Bu Anwar.
“Iya, Bu, selama ini Shinta memang terkena guna-guna.”

Bu Marta memaksaku untuk bermalam di rumahnya tetapi aku berkeras untuk pulang karena masih ada sesuatu hal yang harus kuselesaikan.

Akhirnya, dengan diantar oleh sopir Bu Marta, akupun pulang ke rumah kontrakanku. Mobil itu hanya mengantarku sampai di pertigaan, yang bercabang dan mengarah ke kuburan kampung. Aku memang sengaja meminta turun di pertigaan ini demi ketenangan Mas Ratno.

Malam sudah semakin jauh. Kulihat jam tanganku telah menunjukkan pukul 2 dinihari.

Kulangkahkan kakiku mengarah ke kuburan kampung di mana jasad Mas Ratno dimakamkan. Sebuah bayangan putih berambut panjang tampak bergelayut di atas pohon kamboja. Wajahnya tampak pucat dengan kelopak mata yang menghitam hingga tak kulihat bola matanya di sana. Sosok itu sekilas menatapku tetapi kemudian menghilang begitu saja, meninggalkan ringkik tawa yang memaksa bulu kudukku berdiri.

Kulalui jalan setapak hingga sampai di tengah-tengah kuburan. Kurasakan kelebat-kelebat bayangan yang menjauh pada setiap langkah kakiku, tetapi aku tak sempat melihatnya. Lurus pada sebuah gundukan makam yang masih baru, kuhentikan langkahku. Aku berusaha mengingat-ingat. Benar, itulah kuburan mas Ratno.

Gerimis tiba-tiba menitik membuat suasana yang temaram semakin bertambah gelap. Tak kuhiraukan tetes-tetes air itu membasahi kaos hitam yang kupakai. Gemetar, kulangkahkan kakiku pelan.

Gundukan makam itu masih terhalang oleh tiga gundukan makam lainnya hingga aku terpaksa berjingkat melewati beberapa gundukan makam lainnya. Kilat membelah langit, sekian detik memercikkan sinar terang hingga terbaca sebuah tulisan di batu nisan yang tampak kokoh, SURATNO. Meninggal tahun 2013.

Kutundukkan kepalaku dan membacakan Alfatihah. Lalu kubaca doa-doa lainnya demi ketenangan arwah Mas Ratno. Sepanjang kubacakan doa-doa itu, kurasakan tanah tempatku berdiri seolah bergetar dan hingga kemudian kusudahi doa-doaku.
“Semoga arwahmu tenang di sana, mas Ratno,”

Aku meninggalkan pemakaman itu dengan perasaan sedih. Tak kusangka, laki-laki mapan itu meninggal begitu saja dengan kesia-siaan. Meninggal atas kemauannya sendiri…

Gerimis belum berhenti menitik ketika aku sampai di depan kontrakan. Gelap menyelimuti deretan rumah petak. Kukeluarkan anak kunci dari kantong celanaku yang basah. Kuarahkan benda itu ke lubang kunci. Belum sempat anak kunci itu kumasukkan untuk membuka pintu, aku terkejut ketika tiba-tiba suatu benda meluncur keras dan mengenai jari kakiku.

Benda itu kecil tapi begitu kencang dan tepat mengenai tulang kakiku.
Kubungkukkan tubuhku dan memungut benda itu, sebuah Flashdisk.

BERSAMBUNG

pijar88 on October 2nd, 2014 | File Under Cerita Mistis | No Comments -

Gadis Dua Jiwa (3)

Baca GadisDuaJiwa (2)

“Istriku selingkuh lagi, dan aku kembali terluka.” Ucapnya ketika itu di hadapanku. Wajahnya tampak berkabut hingga keceriaannya tak lagi terlihat seperti dulu.
“Tenang saja pak, sebisa mungkin bapak harus bersabar dengan ujian ini.” kataku berusaha menghibur.
Laki-laki tampan di hadapanku mengambil sesuatu dari dalam tas hitamnya, beberapa lembar foto disodorkannya kepadaku.
Aku menerima foto-foto itu. Kulihat gambar di dalam foto itu, tampak sepasang manusia berlainan jenis yang sedang duduk berdua di kursi sebuah restoran. Mereka tampak mesra.

“Ini kesekian kalinya istriku selingkuh, aku sepertinya tak sanggup lagi menahan beban berat ini,” lirih mas Ratno berkata.
Atas keluhan-keluhan mas Ratno itulah kemudian aku mengheningkan rasa dan ciptaku, mencoba mengosongkan fikiranku sampai kemudian kurasakan tubuhku tersedot, melayang dan terhempas ke dalam ruangan luas tanpa batas. Aku berada di dalam dunia yang aku sendiri merasa asing dengannya. Sebuah padang tandus dengan cahaya temaram yang menyerupai suasana senja.

Kutekadkan diriku, keberanikan diri menghadapinya demi orang yang meminta tolong kepadaku. Tak jauh dari tempatku berada, tampak sosok-sosok manusia yang berjalan pelan mengitari padang tandus tempatku berpijak. Mereka sibuk dengan langkah kakinya masing-masing, tak seorangpun yang mempedulikanku. Pakaian mereka berantakan. Tampak robekan di sana-sini pada pakaian itu, bahkan beberapa tampak berjalan dengan tangan dan kaki yang tak utuh lagi, tetapi mereka seolah tak merasakan sakit meskipun dalam kondisi tubuh yang berantakan.

Kuedarkan pandanganku melihat ke seluruh penjuru yang dapat kujangkau dengan pandangan mataku. Serombongan manusia dengan pakaian tampak rapi terpisah dari sosok-sosok mengerikan yang tadi kulihat. Jarak mereka ada beberapa puluh meter tapi mataku dengan jelas dapat melihat keberadaan mereka. Mereka seperti orang tersesat yang hanya berputar-putar di situ-situ saja, mengelilingi sebuah onggokan berwarna abu-abu yang menyerupai bukit.

Beberapa dari rombongan manusia yang sedang kuperhatikan itu tampak melambaikan tangan ke arahku. Mulut mereka tampak membuka dan menutup seperti orang yang berusaha mengucapkan sesuatu tapi tak kudengar suara apapun selain keheningan dan semilir angin.
Aku terkejut ketika memperhatikan pakaian beberapa orang itu. Pakaian dua orang yang berada paling depan seperti yang sering kulihat di tivi, pakaian yang biasa dipakai para Pilot. Sedangkan beberapa orang di sebelahnya mengenakan jas dan juga terdapat beberapa orang berpakaian dokter.

“Apakah, apakah mereka….” gumamku.
Aku mencoba mendekat ke arah mereka tetapi langkahku terhambat oleh satu kekuatan dahsyat yang seakan melumat persendianku. Kurasakan tubuhku menjadi lentur dan seolah dapat menembus kerumunan sosok-sosok itu tanpa mereka merasakan sentuhan saat tubuhku mengenai sosok mereka.
Beberapa menit mataku hanya melihat kegelapan, gelap yang teramat pekat hingga kemudian muncul bayangan sinar redup yang semakin lama semakin tampak terang.

Kudapati diriku masih duduk bersila berhadapan dengan mas Ratno. Kepalaku terasa pusing dan berdenyut-denyut.
“Terimakasih bah, terimakasih abah” Suara mas Ratno.
Kulihat mas Ratno sedang memasukkan beberapa botol air mineral ukuran besar ke dalam kantong kresek.
“Bagaimana mas, apakah sudah cukup?” tanyaku.
“Sudah mbak, kata beliau aku harus bersabar dan lebih bisa mengendalikan diri.”
“Bagus kalau begitu, semoga cepat selesai masalahnya mas.”
Mas Ratno menyorongkan amplop putih di tangannya kepadu. Aku berusaha menolak tetapi laki-laki itu tetap memaksa hingga akupun menerimanya.

Beberapa minggu sejak pertemuan itu mas Ratno kembali datang kepadaku dan mengabarkan bahwa kehidupan rumah tangganya sudah kembali harmonis. Wajah Mas Ratno tampak berseri-seri. Akupun turut gembira mendengar dia sudah kembali bahagia.

Sejak kedatangan Mas Ratno yang mengabarkan kebahagiannya itu, tak pernah lagi dia datang. Aku mengira dia sudah tak ada masalah lagi dalam rumah tangganya. Sampai pada lima hari yang lalu aku dikejutkan dengan berita buruk tentang kematiannya. Mas Ratno menembak dirinya sendiri setelah memergoki istrinya selingkuh. Direktur PT Tugu muda itu mengakhiri hidupnya dengan cara yang mengerikan, entah dari mana dia mendapatkan pistol rakitan itu, semua temannya tidak ada yang tahu.

***.

Pagi hari aku sudah sampai di kantorku. Kurang duapuluh menit dari jadwal pergantian Sift.

Kusandarkan tubuhku di sofa panjang sambil menunggu mbak Andri keluar dari ruang siaran. Dua orang karyawan sift malam menghampiriku di ruang istirahat. Mereka, dua orang Sekurity yang bertugas menjaga dan mengamankan radio kami, Radio Gerhana Putra.
“Mbak, semalam kami mendengar ada suara ribut-ribut di luar,” kata salah satu dari mereka.
“Maksudnya?” tanyaku acuh tak acuh.
“Setelah kami keluar, itu bukan suara ribut-ribut biasa, tapi ada hantu di radio kita!”
“Yang benar?” tanyaku.
“Benar mbak, kalau nggak percaya, tanya saja sama mas Irfan…” kata laki-laki berseragam itu, “Itu mas Irfan kemari mbak.”
Kulihat mas Irfan masuk ke dalam ruang istirahat, dia langsung memburuku.
“Rani, ada yang nggak beres. Kantor kita sekarang diteror hantu”
Kemudian, mas Irfan menceritakan kejadian tadi malam di Radio Gerhana Putra. Jam satu malam mereka dikejutkan dengan suara berisik di dekat ruang siaran. Suara berisik itu seperti bunyi plastik yang diseret-seret. Ternyata ketika beberapa karyawan keluar ruangan dan mencari tahu sumber suara itu, tampak sesosok pocong sedang berdiri dengan wajah menakutkan. Mereka tak bisa lari bahkan seolah dipaksa melihat wajah pocong itu. Dengan jelas mereka melihat kapas di kedua kelopak matanya basah dan terus meneteskan air mata, sementara plastik di kening dan sisi kedua telinganya tampak menyembul keluar.

“Kami tak bisa bergerak ketika menatap pocong itu,” kata mas Irfan kemudian.
Spoiler for klik:

Aku bergidik membayangkan bahwa tadi malam sosok pocong itu juga datang ke kontrakanku, tapi aku tak menceritakan kepada mereka. Ada saatnya nanti untuk aku menceritakannya.
Kulihat mbak Andri sudah keluar dari ruang siarannya dan akupun bergegas memasuki ruang siaran.

pijar88 on October 2nd, 2014 | File Under Cerita Mistis | No Comments -

Gadis Dua Jiwa (2)

Kisah Sebelumnya

Benar saja. Sampai di rumah kulihat mbak Wati sibuk menenangkan bayinya yang meronta meminta susu. Kasihan bayi itu, semenjak lahir belum sempat melihat bagaimana rupa ayahnya. Segera kuberikan susu formula kepada mbak Wati. Perempuan cantik itu kini masih menganggur dan aku merasa bertanggungjawab atas kehidupannya. Benar-benar aku merasa harus bertanggungjawab atas dirinya. Kenapa aku harus bertanggungjawab? Kau akan mengetahuinya nanti.

Wati menerima susu itu tanpa ekspresi. Segera dibuatnya susu untuk anaknya sementara aku bergegas mengambil air wudlu kemudian sholat di kamarku.
Kupasrahkan diriku atas apa-apa yang telah dan akan terjadi, kulepaskan semua beban di atas sajadah. Hening.
Selesai sholat magrib, Wati telah menungguku di depan kamar dengan wajah pucat sementara bayinya tampak tenang di atas gendongannya. Mulut mungil bayi itu tampak lahap menyedot-nyedot puting dotnya.

“Ran…!” Seru Wati.
“Ada apa?”
“Itu, ayo… ikut aku.” Wati tampak begitu cemas.
Di luar petir menyambar-nyambar, hujan turun dengan derasnya
Kami melangkahkan kaki ke kamar mandi.
“Sumpah Ran, kran air itu…”
Aku melangkah dan memutar tangkai kran, sekejap kemudian tampak cairan mengalir dari lubang kran tapi tak seperti biasanya. Warnanya merah gelap menyerupai darah kental.

Aku terpaku sementara Wati tampak berdiri gemetar sambil memegangi lenganku.
“Darah..?” Ucapku
“Iya, itu sepertinya darah!”
Aku mendekatkan ujung hidungku berusaha membaui cairan yang terus mengalir dari lubang kran. Tidak berbau apa-apa.
“Mungkin ada pewarna yang sengaja ditaburkan ke penampungan air di atas??” ucapku berharap.
“Siapa?” bisik Wati ketakutan.
“Besok pagi coba kita lihat.”

Kuberanikan diri menutup kran itu. Mataku tertumbuk ke air di lantai yang tadi tampak menggenang berwarna merah. Kini cairan merah itu tak lagi berbekas. Lantai kamar mandi benar-benar tampak bersih seolah tak pernah ada cairan berwarna merah yang mengguyur di atasnya.
Wati membuka kran itu dan air kembali mengalir dari mulut kran, warnanya bening!
Kami saling berpandangan.
Spoiler for Jangan diKlik!:

Suara gemericik air yang jatuh memecah ketegangan kami.
“Tadi kita hanya salah lihat Ran, mungkin fikiran kita sendiri yang mengkondisikan sesuatu dan akhirnya terlihat di depan kita” Aku mencoba menghibur Wati.
Wati terlihat lebih tenang.
Hujan di luar semakin deras. Suara titik-titik hujan terdengar keras menimpa atap asbes.

***

Hari beranjak malam, Hujan baru saja berhenti. Wati dan bayinya telah tertidur pulas. Aku sudah berbaring lama di ranjang tetapi mataku tak juga dapat kupicingkan. Radio kecil sudah kumatikan tetapi suara angin yang menderu malah mengganggu pendengaranku. Kubuka jendela kamar untuk melihat suasana di jalanan luar, Gerimis masih menyisakan titik-titik di bias lampu jalan yang remang. Kulihat beberapa pedagang mendorong gerobak. Langkah-langkah mereka tampak terburu-buru. Aku keluar rumah untuk memesan makanan kepada salah satu pedagang itu.

Hujan telah benar-benar berhenti.
“Bang, abaaang….!” Teriakku kepada para pedagang itu, “Nasi goreeeng…!!”
Tak satupun para pedagang itu yang menghentikan langkahnya, mereka tetap terburu-buru mendorong gerobaknya. Kesal, aku kembali masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu kamarku rapat-rapat. Pupus sudah keinginanku untuk makan nasi goreng malam-malam begini. Tak biasanya para pedagang itu bersikap sombong seperti tadi. Ataukah mereka tak mendengar suaraku?
Aku hanya bisa merutuk dalam hati.

Kembali kuhempaskan tubuhku ke atas kasur, berusaha memejamkan kedua mataku tetapi di luar terdengar suara keresek-keresek panjang seperti plastik besar yang diseret seseorang.
Aku berusaha menajamkan pendengaranku.
“Srrreeeekkkhh”
Suara keresek seperti plastik yang diseret semakin tampak jelas di telingaku. Suara kemeresek itu terdengar mendekat ke arah pintu depan kontrakan kami. Malam semakin pekat dalam keheningan. Senyap selain suara plastik yang terseret panjang. Di kejauhan terdengar lolong anjing yang terasa menyayat telingaku.
Aku mendekat ke arah pintu depan, dan menunggu suara keresek itu kembali terdengar. Seperti dugaanku, suara itu kembali terdengar. Kutarik gerendel hingga pintu terbuka lebar.
“Raniii…” “Rannniii”
Terdengar suara panjang dan memilukan seolah menahan beban duka dan tangis. Suara itu jelas memanggil-manggil namaku.
“Siapa itu?” aku berusaha mencari-cari suara itu, tak ada siapa-siapa. Tetapi saat kepalaku menoleh ke kiri di dekat gerumbul pohon pisang, tampak bayangan putih yang berdiri kaku.

“Jangan takut, akuuuhhh akuhh Ratno…”
Spoiler for Klik aja udaaah:
Suara itu begitu serak dan terdengar nafasnya yang tersengal-sengal. Aku tercekat oleh pemandangan nyata di depan mataku, bayangan putih tinggi besar dengan kedua mata yang berbalut kapas. Kedua pipinya teramat pucat seolah dilapis bedak tebal. Di antara kulit dan kain putih yang bertali di kedua ujungnya tampak selembar plastik bening membungkus kulit.
Aku tak kuasa untuk memalingkan wajahku. Kedua mataku seolah terpatri oleh perwujudan mayat berbungkus kain kafan itu. Mayat berbungkus yang terlapis plastik di dalamnya. Pocong!
“Kamu mas…?” Ucapku lirih.
“Ya, aku Ratno sahabatmu. Tolong aku Rann, cuma kamu yang bisa mendengar keluh kesahku,”
“Ap, apa yang bisa kulakukan?”
“Tolong aku… Aku tersiksa. Panaaass….”

Kucoba memejamkan kedua mataku tapi tak bisa. Bau harum bunga setaman bercampur bau busuk tiba-tiba mengaduk-aduk isi perutku. KIni aku bisa menggerakkan kembali persendianku yang sejurus lamanya terasa terkunci. Seketika aku memuntahkan cairan dari mulutku. Aku muntah begitu banyak.
“Bukakan plastik dari tubuhku, bukakan plastik dari tubuhku…”
“Hah.., bagaimana caranya?”
“Kamu bisa Rani, kamu bisa melakukannya…”
Sekejab setelah mengucapkan kata-kata itu, sosok putih itupun menghilang. Sosok menyeramkan yang membuatku teringat kepada seseorang.

Hidungku mendengus-dengus oleh bau wangi bercampur busuk yang tertinggal di tempatku berdiri. Kembali aku muntah-muntah, begitu banyak.
Tergesa-gesa aku masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Jendela kamarpun langsung kututup. Aku tak ingin hidungku kembali membaui percampuran bau yang membuat perutku terasa mual.

***

Aku tak bisa tidur. Wajah mas Ranto yang begitu mengerikan masih membayang di pelupuk mataku. Kubuka smartphone ku, langsung brows ke galeri.
Klik.
Sebuah wajah tampan. Seorang laki-laki gagah. Wajah mas Ratno, Direktur PT Tugu Muda yang baru lima hari lalu mati bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri.
“Ya Allah, lapangkan jalan mas Ratno…” doaku.
Fikiranku membayangkan wajah tampan itu. Dulu, laki-laki perlente itu datang kepadaku dengan setumpuk masalah yang membuatnya depresi. Tiga bulan lalu hampir selalu dia curahkan segala kepedihan dan luka hatinya karena tak tahan akan beban derita yang disebabkan oleh kekasihnya.

“Pacarku selingkuh lagi, dan aku kembali terluka.” Ucapnya ketika terakhir kali dia duduk di hadapanku. Wajahnya tampak berkabut hingga keceriaannya tak lagi terlihat seperti dulu.
***

Kisah Selanjutnya GadisDuaJiwa (3)

pijar88 on October 2nd, 2014 | File Under Cerita Mistis | No Comments -

Misteri Bahu Sang Penari 3

Hari beranjak sore dan petang pun menjelang. Angin dingin lereng gunung Slamet merayap menggelapi suasana desa Krandekan yang temaram. Lampu-lampu jalan bersinar redup tak mampu menerangi seluruh bagian desa yang begitu luas. Serangga malam mulai bertebaran mencari penghidupan, katak-katak tanah bernyanyi merdu.

Beberapa orang tampak berkumpul di warung kopi. Berbagai cerita, tawa dan canda membahana di warung kecil Bu Carmi. Wedang jahe tampak berkepul-kepul di atas gelas-gelas bening.

Dua orang duduk di pojok terpisah dari para pengunjung lain. Pak Jumadi tampak menikmati wedang jahe di depannya.

“Jadi, saya minta bantuan dana untuk membangun rumah pak..” Kata orang di sebelahnya mengharap.

“Berapa Har, memangnya kamu sudah siap segala sesuatunya?” Sahut Pak Jumadi.

Orang yang dipanggil ‘har’ itu merapatkan posisi duduknya. “Saya butuh buat beli semennya pak, mungkin Pak Jum bisa bantu 10 atau 20 zak, saat Pak Jum menikahkan Wardoyo kelak, gantian saya menyumbang senilai sumbangan Pak Jum.” Jawabnya yakin.

Pak Jumadi mengangguk-anggukan kepalanya. Dia sangat memahami bagaimana rasanya kesulitan dana selagi keinginan dan kebutuhan sudah memuncak. Pak Jumadi pun tergerak untuk membantu, apalagi kepada pekerjanya sendiri seperti Harsoyo itu.

“Ya sudah, nanti saya menyumbang 25 zak semen”

Harsoyo tampak lega. Dihelanya nafas panjang, batinnya benar-benar puas. “Makasih pak, makasih… Pak Jum memang baik hati.”

“Sama-sama. Selagi bisa saya bantu akan saya bantu. Kalo lagi tidak ada, saya tidak bisa apa-apa.”

“Iya pak.”

“Kamu tidak usah ganti dana itu. Kalau kamu perlu cepat, besok sore datanglah ke rumah.”

Harsoyo terharu mendengar kata-kata Pak Jumadi. Diraihnya tangan Pak Jumadi dan diciuminya telapak tangan kasar itu berulangkali.

Sementara itu di kamarnya, Wardoyo termenung membayangkan Ranti yang akan jadi sintren. Ada rasa khawatir muncul begitu saja terhadap sahabatnya itu. Terlebih Wardoyo merasa dekat dengan Ranti. Dia tak tega membayangkan sahabatnya itu pingsan di pertunjukan Sintren nanti. Di sisi lain, Wardoyo penasaran untuk melihat Ranti berpakaian sintren. Wardoyo ingin melihat Ranti didandani seperti bidadari.

“Kamu pasti akan bertambah cantik, secantik bidadari…“ desisnya.

Itulah kerinduan tulus seorang Wardoyo, seorang remaja kelas 1 SMP.

 

***

 

Hari-hari yang mendebarkan bagi Ranti akhirnya tiba juga. Saatnya pertunjukan sintren di gelar. Orang-orang yang terlibat dalam pertunjukan sintren sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Seperti biasa, dusun Segeran menjadi tempat digelarnya acara itu. Sejak sore Pak Sasmita bersama istrinya sudah berada di rumah Mbah Darmo yang jadi pawang sintren. Mereka mendampingi Ranti yang akan menjadi sintren malam nanti.

“Ini tak sekedar Sintren Ranti, kamu sekaligus diruwat dari sengkala…” Ucap Pak Sasmita dalam hati. Dia gembira akhirnya Ranti mau menjadi Sintren.

Jalanan desa tampak sepi. Pasar Kopenan tutup sejak sore hari. Angin malam merayapi sendi-sendi desa Krandekan yang menggigil. Awan tebal yang sedari tadi menggantung di atas langit Krandekan telah bergeser ke sisi langit lainnya. Hujan yang diperkirakan segera turun telah beralih. Dan langit pun kini tampak cerah oleh ribuan bintang-bintang.

Suara jangkrik tak putus-putus mengisi malam yang indah. Kunang-kunang tampak bertebaran di pucuk-pucuk pohon Sonokeling. Udara terasa panas. Sejak sore Pak Jumadi sudah tak kelihatan di rumah besarnya. Sementara Maya tampak sedang berbincang dengan temannya di teras rumah. Setelah sholat magrib Wardoyo keluar dari rumahnya yang besar. Wajahnya tampak berseri-seri. Malam ini dia begitu bersemangat untuk menonton sintren di dusun Segeran, ujung desa Krandekan.

Bersama kedua temannya, Kandar dan Mardi, mereka tampak berjalan kaki menyusuri jalanan desa yang bermandi cahaya bintang. Sejak siang mereka sepakat untuk menonton sintren bersama-sama. Satu alasan yang membuat Wardoyo begitu bersemangat adalah karena yang jadi sintren adalah Ranti, gadis cantik anak Pak Sasmita.

Kandar berjalan paling depan. Berbaju kotak-kotak dengan kain sarung diselempangkan di atas bahu. Pemuda tanggung itu tampak percaya diri dengan dandanan seperti itu. Begitupun Wardoyo, dibahunya terselempang kain sarung dari kios ibunya. Mardi, pemuda gendut yang langkahnya terseok dan selalu ketinggalan dari kedua temannya itu mengalungkan kain sarungnya di leher. Mereka sama bercelana pendek. Bersandal jepit dan membawa beberapa perak uang logam.

Mereka melewati jalanan kecil berbatu, kemudian menyusuri bulak Segeran. Ketiga anak tanggung itu telah terbiasa melewati bulak yang konon angker itu, terutama jika mereka akan mencari belut di persawahan timur.

Ketika berada di area persawahan yang gelap oleh daun-daun petai cina, Wardoyo melihat sekelebat bayangan melesat cepat ke tengah sawah.

“Apa itu, apa ituu…?“ teriak Wardoyo pada kedua temannya.

Kandar dan Mardi serentak memandang ke arah yang ditunjuk Wardoyo tapi tak sempat melihat bayangan itu. Di atas langit timur seberkas cahaya kebiruan melintas dan jatuh di atas rumah penduduk, luput dari pandangan mata mereka.

“Memangnya apa yang kamu lihat tadi Yok?“ tanya Kandar.

“Entahlah, seperti binatang atau apa, tak begitu jelas. Dia hitam besar dan bergerak sangat cepat!“ Wardoyo menjelaskan.

“Itu, kata orang, namanya Hantu Celeng. Hantu celeng selalu gentayangan mencari mangsa.“ Ujar Mardi.

“Bukan, bukan… Kamu salah. Itu bukan hantu. Itu adalah…“ Kandar langsung menyanggah.

“Apa?“ Wardoyo penasaran.

“Kalau dari penjelasanmu tadi, itu sepertinya Celeng kresek. Jelmaan orang yang mencari pesugihan!“ Ujar Kandar yakin.

“Ach sudahlah, ngapain juga mikirin itu? Yang penting kita selamat dan tujuan kita kan mau nonton Sintren?“

“Coba periksa kantong celanamu, masih ada nggak uangmu?“

Wardoyo merogoh kantong celananya. Tidak ada yang berubah, uangnya masih utuh. Kedua temannya juga mengikuti Wardoyo, memeriksa kantong celana mereka. Tak ada yang mencurigakan.

Ketiga sahabat itupun kembali melanjutkan perjalanan.

Mereka tiba di dusun Segeran ketika baru beberapa menit acara dimulai. Gema nyanyian merdu terdengar mendayu-dayu. Empat buah lampu petromax besar tampak tergantung di atas tiang penyangga dari bambu yang saling bertaut pada ujungnya.

Para pedagang malam menggelar dagangan mereka di sepanjang jalan. Kacang rebus, jagung bakar, ondal-andil. Tampak para pedagang mainan memadati sekeliling arena pertunjukan. Agak jauh dari arena, Dua bandar judi koprok menggelar taruhan dengan hadiah rokok yang dipajang di atas tikar pandan. Puluhan orang tampak mengerumuni lapak para bandar itu. Ada yang sekedar melihat-lihat, ada pula yang ikut menjajal keberuntungan demi mendapat sebungkus atau beberapa bungkus rokok. Tukang es, mie ayam, soto dan bakso tampak berderet di pinggir-pinggir jalan dekat acara.

Wardoyo menatap ke depan. Mencari-cari makanan yang kira-kira menarik hatinya. Dia tersenyum senang. Tukang jenang gaplok yang biasa berjualan di setiap ada pertunjukan ternyata tak ketinggalan menempati salah satu tempat di ujung jalan.

Mereka, sepasang suami istri berusia lanjut yang mengabdikan dirinya berjualan jenang dari saat mereka masih muda.

Dulu, Wardoyo sering ketakutan saat melihat kakek tua berjanggut panjang itu mengayunkan pisau besarnya di atas jenang gaplok yang padat dan keras.

Wardoyo melihat sekilas angkringan dari bambu yang teronggok di pinggir jalan itu. Tempat itu remang dan tak seramai tempat lainnya. Sebuah lampu teplok tampak menyala redup tak sanggup mengusir kegelapan di sekitar angkringan itu. Sinarnya hanya mampu menerangi sebagian kecil angkringan. Tapi kedua orang tua itu tampak semangat dengan jualannya. Semasa kecil dulu, bahkan sejak dari kanak-kanak ayahnya sering membelikan jenang gaplok buatan kakek tua itu.

Wardoyo ingat cerita ayahnya dulu, bahwa si kakek sebenarnya mempunyai anak perempuan yang sering menemaninya berjualan. Tapi semenjak anaknya menghilang, si kakek selalu mengajak istrinya menjajakan jenang gaploknya. Konon mereka berjualan jenang gaplok sembari mencari anaknya yang hilang entah kemana.

“Hei, Mardi, Kandar…! Siapa yang mau jenang gaplok? Aku bayarin kalian!“ Seru Wardoyo.

Kedua temannya diam saja. Sesaat mereka tak bereaksi. Wardoyo kembali berseru menawari Jenang. Barulah kedua temannya mengangguk setuju. Mereka pun berhenti. Wardoyo langsung menghampiri kakek tua penjual jenang itu. Dilihatnya si kakek sedang mengasah pisau besarnya dengan batu wungkal.

“Kek, jenangnya tiga biji.“ Kata Wardoyo.

“Berapa?“ Kakek tua itu mengambil pisaunya dan bersiap memotong makanan pipih keras berwarna hitam.

“Tiga biji“

Kakek tua itu mengayunkan pisaunya yang tajam dan mengenai makanan berbentuk lebar kotak itu, dipotongnya menjadi beberapa bagian seukuran tiga jari orang dewasa.

“Blukk ! blukk ! blukk !!“ Suara pisau beradu dengan papan pipih terdengar keras di telinga Wardoyo.

Tiba-tiba Wardoyo ternganga. Dia merasa ngeri dan ketakutan saat melihat cairan merah kental meleleh dari sayatan-sayatan lembaran jenang gaplok itu. Merah tua semerah darah! Perut Wardoyo tiba-tiba terasa mual.

Kandar dan Mardi melihat keanehan pada diri sahabat mereka tapi tak tahu apa yang telah terjadi. Mereka keheranan melihat Wardoyo menutupi kedua matanya.

“Kek, kakek… ! Ini apa?“ ucap wardoyo sambil menyentuh cairan kental berwarna merah itu. Kakek penjual jenang itu tak menjawab.

Wardoyo bingung. Diangakatnya jari yang terkena cairan dan didekatkannya ke hidung, seketika tercium bau amis darah. Di sebelah kakek tua itu, si nenek tersenyum dan memperhatikan Wardoyo. Tatapannya begitu tajam.

“Kayak darah ini kek, ini… Ini… Darah?!“ Wardoyo terbata-bata.

“Kamu salah lihat nak, apa yang terjadi sama kamu? Tidak ada darah di sini.“ Suara nenek berujar. Si kakek tampak mengangguk-angguk.

Wardoyo kembali mendekatkan jari tangannya ke hidung. Tak ada darah. Dipandanginya papan alas jenang tempat dia tadi melihat darah mengalir. Tak ada darah. Tak ada apa-apa di sana.

“Hati-hatilah kamu menjaga diri nak, sepertinya ada aura jahat di sekelilingmu.“

“Maksud kakek?“

“Kamu akan mengerti pada saatnya nanti.“

Wardoyo segera membayar jenang yang dipesannya. Jenang di dalam bungkusan plastik itu diberikannya kepada Mardi.

“Kamu bawa saja dulu Di.“

Mardi menatap Wardoyo keheranan. Dia tak mengerti apa maksud Wardoyo.

“Apa Yok? Ini apa?“ tanya Mardi.

“Ini jenangnya. Kamu bawa dulu, kita makan jenang ini nanti…“

Karena penasaran Mardi spontan membuka bungkusan plastik hitam itu sementara Kandar memperhatikan dengan seksama.

Terbukalah bungkusan itu. Tiba-tiba Mardi dan Kandar tertawa terkekehkekeh.

“Mana…, mana jenangnya… Kamu jangan ngaco Yok. Masa bungkusan sampah begini kamu bilang Jenang?“

Wardoyo ternganga tak mengerti dengan ucapan kedua temannya. Dia membalikkan tubuhnya dan memanggil kakek penjual jenang tadi, “Kek, kakek…“

Wardoyo terkejut setengah mati. Tidak ada apa-apa di sana. Di lokasi itu hanya tampak tumpukan sampah-sampah kardus dan pelepah pisang. Terdapat lubang berukuran lingkar tubuh orang dewasa dengan taburan bunga melati di atasnya.

“Dari tadi kami keheranan melihat kamu diam lama di tempat ini Yok.“ Kandar berubah serius.

“Waktu kami panggil-panggil kamu diam saja…“ Mardi menimpali.

“Tahu-tahu kamu pungut bungkusan itu dari onggokan sampah !” tukas Kandar

Jantung Wardoyo berdesir. Hati dan perasaannya kacau. Tetapi demi niat semula untuk melihat pertunjukan sintren, dia tak menghiraukan kejadian itu.

Merekapun bergegas menuju ke tanah lapang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Wardoyo menoleh ke tempat itu kembali, tidak ada tukang jenang gaplok. Tidak ada angkringan tua. Tidak ada apa-apa selain onggokan sampah dan pelepah pisang.

Suasana bersih desa itu benar-benar meriah seperti pasar malam. Di tengah tanah lapang suasana lebih riuh lagi. Orang-orang berdiri teratur mengelilingi arena. Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, mengikuti dengan khidmat acara inti yang sebentar lagi akan digelar. Ketiga pemuda tanggung itu tampak menikmati suasana pertunjukan itu.

Pak Kades tampil ke tengah arena memberi sepatah dua patah kata sambutan. Para penonton antusias mendengarkan wejangan dari pak Kades. Sebentar kemudian mereka semua tampak berdoa agar prosesi berjalan lancar. Gendang ditabuh dan pertunjukan sintrenpun segera dimulai.

Ranti yang cantik mengenakan kaus putih dan berjongkok di tengah tanah lapang. Di sebelahnya sebuah sangkar tinggi berhias kain coklat keemasan tampak tegak mengerikan. Semerbak harum kemenyan terbawa angin, wangi minyak Duyung menyebar ke seluruh arena.

Mbah Darmo berkeliling arena sambil mulutnya tampak komat-kamit membaca mantra. Nyanyian para pengiring terus bergema bersahutan mengiringi laku sang pawang. Setelah memandang berkeliling, sang plandang mengangkat lalu menutupkan sangkar besar itu hingga menyelubungi tubuh Ranti. Dalam sekejab tubuh Ranti tak lagi terlihat. Tersembunyi di dalam sangkar besar itu. Wardoyo tak berkedip menatap prosesi ritual sintren itu. Pemuda tanggung itu merasa cemas, jantungnya berdegup kencang.

Beberapa menit kemudian Sangkar kembali dibuka. Semua orang terpana takjub melihat perubahan terjadi pada diri Ranti. Gadis cantik itu sudah berpakaian rapi dan anggun selayaknya bidadari. Ranti seolah berubah menjadi orang lain, sosok agung bidadari yang turun dari kahyangan. Tetapi Ranti yang berjongkok dan sudah berpakaian Sintren itu masih terikat tali temali yang melilit tubuhnya. Para pengiring segera menyanyikan tembang pembuka tali,

Solasih solandana, menyan putih pengundang dewa, ala dewa saking sukma, widadari temuruna. Solasih …

Kemben coklat melilit tubuh Ranti yang kuning langsat. Rumbai-rumbai jalinan bunga melati tampak indah di atas rambut yang sebagian tergelung dan sebagian terurai. Rambut indah itu tampak berkibar-kibar tertiup angin. Tanda lahir berwarna gelap sesekali tampak di sela tengkuknya yang indah. Sebuah kacamata hitam menghias wajahnya, sementara selendang kuning melambai di pinggang. Saputangan di jari kanannya menambah anggun dan mistis penampilan Ranti malam ini.

Gendang ketipung ditabuh. Perlahan Ranti mulai menari dengan gemulai di tengah arena. Lagu Turun Sintren menyambut Ranti yang siap menghibur penonton. Teriakan dan siulan para pemuda bersahut-sahutan menambah hingar suasana.

Wardoyo terkagum-kagum. Ranti sungguh memukau dirinya. Kejadian aneh dan mengerikan di jalanan tadi telah dilupakannya. Wardoyo hanya menikmati melihat gadis pujaan hatinya mengenakan pakaian sintren yang serba gemerlap. Ranti dengan sepasang mata indah dan kulit putihnya yang mengkilap. Dalam hati Wardoyo terus memuji Ranti yang paling cantik di antara gadis-gadis lain di desanya. Selama ini mereka telah berteman selayaknya pertemanan anak desa, tak lebih dari itu. Kadang-kadang rasa rindu menggelayut di hati Wardoyo jika sehari saja dia tak melihat Ranti. Biasanya Wardoyo akan mencari alasan untuk bisa bertemu gadis itu. Wardoyo ke kios orang tuanya jika Ranti menemani ibunya di pasar. Dia sengaja ke sawah untuk melihat Ranti mengantar makanan para pekerja. Jika musim bajak sawah tiba, Wardoyo sering memberikan belut hasil tangkapan bersama teman-temannya kepada Ranti. Begitu besar kerinduan yang sering dirasakannya.

Hari ini Wardoyo begitu gembira melihat Ranti dalam sosok yang berbeda. Malam bersih desa ini, pertama kalinya Ranti menjadi seorang sintren.

“Turun, turun sintren… sintrene widodari…” Suara kur pengiring dan para pawang berpadu dengan suara ketipung terdengar merdu di telinga para penonton. Satu persatu para penonton meminta lagu dengan melempar kain sarung ke tubuh sintren. Berulangkali pula sintren Ranti jatuh tak sadarkan diri, bangkit menari, dan jatuh lagi.

Wardoyo terhenyak menikmati alunan merdu nyanyian sintren. Satu jam sudah sintren Ranti tak lelah menari. Diliriknya Kandar yang berdiri di sebelahnya. Kandar juga tampak begitu menikmati acara.

Kandar melepas dan menggulung kain sarungnya bersiap untuk mbalang. Tak berapa lama kemudian gulungan kain sarung kandar meluncur deras mengenai tubuh Ranti yang sedang menari. Ranti jatuh pingsan lagi. Para Plandang langsung menyergap tubuh Ranti yang limbung. Sangkar kembali ditutupkan ke tubuh Ranti yang terduduk. Nyanyian koor pengiring kembali terdengar. Tak berapa lama tembang pilihan Kandar pun mengalun mengiringi tarian sintren.

Wardoyo tergoda untuk turut mbalang seperti orang-orang itu. Dilepaskannya kain sarung yang tersampir di bahu, lalu dibentuk menyerupai bulatan kemudian dilemparkannya pelan ke arah Ranti yang sedang menari dengan indah. Wardoyo menghela nafas.

“Brett !” Kain sarung itu halus mengenai tubuh Ranti, tubuh gemulai Ranti yang indah itupun jatuh dan Ranti tak sadarkan diri. Kembali sang plandang sigap menangkap tubuh Ranti yang hendak ambruk ke tanah. Wajah cantiknya yang berhias rumbai-rumbai gabus dan untaian melati itupun terkulai di atas lengan sang Plandang. Lagu dan suara ketipung tetap mengalun seolah tak terjadi apa-apa.

“Minta tembang apa dik?” Teriak sang plandang ke arah Wardoyo

“Kembang telo…” Teriak Wardoyo. Entah bagaimana tiba-tiba saja terucap judul tembang itu.

“Tidak boleh, tidak boleh nyanyi lagu itu !” Teriak Mbah Darmo langsung merangsek ke tengah arena.

“Kenapa Pak?”

“Siapa yang akan bertanggungjawab kalau tembang itu tetap dinyanyikan?” Tak ada yang menjawab. Semua tampak terdiam.

“Tembang Mliwis Putih saja Pak,” ucap Wardoyo kemudian.

Sintren kembali diselubungi sangkar besar. Mbah Darmo komat-kamit dengan sebelah tangannya meremas gumpalan dupa yang langsung terjatuh di atas cawan pembakaran. Bau kemenyan menyebar kemana-mana bercampur wangi Duyung yang harum baunya.

Sangkar dibuka bersamaan dengan tembang Mliwis putih yang dinyanyikan para pengiring dengan merdu, iramanya terdengar mendayu-dayu. Hingga lagu itu hampir selesai dinyanyikan, Sintren yang menari diiringi musik gendang ketipung berjalan pelan menghampiri Wardoyo. Tangan Plandang menjulur memberikan kain sarung Wardoyo. Kain Sarung itu kini telah berbau harum minyak Duyung. Berulang kali Wardoyo mencium kain sarungnya seolah diri Ranti ada di sana.

Di tengah suasana yang begitu meriah tiba-tiba terdengar suara gaduh dari ujung jalan. Sekelabat bayangan hitam melesat cepat. Sekian detik kemudian empat orang tampak berlarian mengejar bayangan yang tampak seperti binatang. Besar dan berwarna gelap kecoklatan.

“Celeeeeng… Celeeeeng…. !!” Teriak orang-orang yang berlari kencang mengejar bayangan hitam itu.

Orang-orang disekitar pertunjukan sintren itu pun berhamburan turut memburu binatang yang dimaksud, tapi dalam sekejap saja mereka kecewa. Mereka saling pandang tak mengerti dengan apa yang terjadi.

Sesuatu yang mereka kejar itu menghilang begitu cepat. Tidak ada yang tahu kemana larinya. Bayangan itu hilang begitu saja di depan mata mereka.

Wardoyo dan Kandar ternganga melihat pemandangan di depan matanya. Mereka tak sempat melihat wujud dari sesuatu yang dikejar oleh keempat orang yang kini tampak kesal dan kecewa. Keempat orang itu berteriak-teriak memaki.

“Celeng kresek…! Celeng kresek..! Awas kamu, tak cincang-cincang tubuhmu kalo ketemu!”

“Cari lagi, cari lagi..!! Ayo bunuh !! Kita bunuuuh !”

Teriakan-teriakan mereka membuat suasana jadi kacau balau. Orang-orang turut mencari-cari celeng kresek itu. Tapi nihil, tak ada seorang pun menemukan apa yang mereka cari.

“Sudah, sudah… Mungkin kalian salah lihat.” Teriak Mbah Darmo tak kalah keras. Laki-laki kurus yang setiap musim panen menjadi plandang itu merasa terusik dengan kedatangan keempat orang yang membuat acara sintren itu berantakan.

“Benar Mbah Darmo, kami benar-benar melihat Celeng itu tadi…” teriak salah satu dari mereka.

“Wah, rupanya ada celeng kresek di desa kita, ada babi ngepeeet” Seru Pak Sasmita yang tiba-tiba muncul dari balik kegelapan. Dia tampak menyesalkan ribut-ribut itu terjadi pas ketika Ranti sudah akan diruwat.

“Sudah, sudah. Kalian kejar saja sana kalau bisa. Biarkan pertunjukan sintren ini tetap berjalan, jangan ganggu lagi.” Teriak kencang Mbah Darmo.

Gendang ketipung kembali berbunyi dengan suara menghentak. Pertunjukan sintren pun dilanjutkan kembali.

Turun, turun sintren, sintrene widodari, nemu kembang ning ayunan, kembange putri mahendra, Widodari temuruno, manjing maring sing dadi.

 

***

 

Pertunjukan sintren berakhir tepat jam 1 malam. Orang-orang pun bubar. Wardoyo dan ketiga temannnya kembali melewati jalan berbatu mengarah ke rumah mereka di dusun Kopenan. Langkah-langkah mereka terasa berat karena kantuk yang mulai mendera.

“Kandar, bagaimana penampilan Ranti tadi menurutmu?” Tanya Wardoyo.

Kandar yang berjalan sambil memakan kacang rebus menjawab, ”Duh, yang punya pacar…”

“Pacar bagaimana, orang kami tidak pacaran kok…” wajah Wardoyo tampak malu.

“Kalian belum pacaran..?” tukas Mardi.

“Saya tanya, penampilan Ranti tadi bagaimana? Cantik bukan?”

“Iya, iya.. Cantik!”

Hari sudah larut ketika Wardoyo dan ketiga temannya sampai di rumah masing-masing. Mereka merasa puas. Setidaknya Wardoyo sudah sangat puas melihat Ranti menari dan berlenggak-lenggok mengikuti permintaan lagunya.

Di kamarnya, Wardoyo terbayang-bayang wajah Ranti yang sangat menarik di matanya. Jauh di dasar hatinya dia berharap kata-kata Kandar akan menjadi kenyataan. Setelah sama-sama dewasa nanti, Ranti mau menjadi pacarnya. Untuk saat ini, Wardoyo tak hendak berfikir macam-macam. Dia merasa belum pantas memiliki seorang kekasih.

 

***

BERSAMBUNG

pijar88 on August 21st, 2014 | File Under Jurnal | No Comments -